Senin, 01 Oktober 2012

FENOMENA TAWURAN DI KALANGAN PELAJAR

Oleh : Sakran*
Senang atau tidak fenomena tersebut sudah berlangsung sejak lama di negeri kita tercinta ini. Sudah banyak pakar yang berpendapat tentang penyebab dan solusinya, begitu pula di pihak sekolah sudah mengambil langkah yang beraneka ragam untuk mengantisipasi terjadinya tawuran. Tidak urung para pejabat maupun politisi ambil bagian dalam ajang lomba komentar mengatasi tawuran pelajar ini.
Bisa jadi isu atau fenomena ini akan terus berkembang / berjalan terus sering dengan kemajuan zaman dengan tingkat, intensitas dan model tawuran yang lebih variatif. Bukan tidak mungkin hal itu terjadi jika tidak ada langkah yang tepat untuk mengatasi tawuran tersebut. Ada banyak faktor yang sering kita dengar baik di media cetak maupun di media elektronik tentang penyebab tawuran tersebut, mulai dari kondisi keluarga yang broken home, tidak adanya perhatian orang tua terhadap anak, kondisi pemebelajaran di sekolah yang tidak kondusif, pergaulan bebas, pengaruh lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak tersebut dan masih banyak lagi alasan yang lainnya yang kalau di kaji semuanya masuk akal/ logis.
Tapi ada satu hal yang belum dilihat oleh para komentator tersebut yang bisa jadi ini merupakan hal yang paling mendasar sebagai penyebab tawuran tersebut. Dalam banyak kasus baik di jakarta, medan maupun makassar, motifnya hampir sama yaitu rasa kebencian yang ditanamkan oleh siswa – siswa senior kepada adik- adiknya, baik itu dalam Masa Orientasi Siswa ( MOS) maupun dalam pergaulan keseharian di sekolah. Dalam pelaksanaan MOS salah satu materi terselubung yang harus ada adalah kepatuhan terhadap senior ( senioritas) ini mulai dari tingkat SMA lebih lebih pada perguruan tinggi. Dalam materi terselubung itulah ditanamkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang siswa/mahasiswa baru, termasuk dalam menanamkan rasa kebencian kepada organisasi lain yang berada diluar baik karena pengaruh perorangan maupun kelompok.  Contohnya bahwa SMA…. Adalah musuh kita yang harus dilawan, kita jangan mau kalah dengan SMA ini, SMA itu dan semacamnya. Jadi ada sejenis doktrin yang ditanamkan oleh para senior kepada yuniornya antara lain untuk membela sekolah dari sekolah lain, bahwa kita lebih jago dari sekolah yang lain, solidaritas sesama yang kesemuanya itu tanda kutip(“) adalah doktrin yang diarahkan ke hal yang negatif.
Jadi terlepas dari penyebab tawuran itu sendiri, wacana diatas perlu menjadi bahan pemikiran bersama bahwa penanaman doktrin kakak kelas kepada adik-adiknya adalah hal yang sangat luar biasa pengaruhnya, yang bisa mengakibatkan kejadian yang luar biasa bagi warga sekolah. Maka dari itu saya menghimbau dan mengajak para teman – teman guru baik yang peduli maupun yang tidak peduli kepada masa depan anak didiknya untuk mengambil bagian dan mengawasi kegiatan – kegiatan yang ada di sekolah baik kegiatan formal maupun non formal, baik kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler yang kemungkinan besar penenaman doktirn – doktirn tersebut dilakukan. Mari saya mengajak kepada semua pihak untuk dapat mengendalikan diri dan menjaga anak – anak kita bukan hanya dari tAwuran tetapi dalam hal yang lebih besar lagi seperti narkoba dana pergaulan yang bebas yang efeknya sebenarnya lebih besar dari tawuran itu sendiri.
(* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Indonesia Program Pascasarjana Administrasi dan Kebijakan Pendidikan.  Penulis juga Guru di SMA Negeri 2 Bantaeng Sulawesi Selatan)